Kamis, 14 Juli 2011

Seperti Masa-Masa SMA

"Bagaimana kita setelah SMA nanti? Bagaimana kita sepuluh, lima belas, atau dua puluh tahun nanti?"


Gadis remaja itu terlihat senang menari-nari di tengah hujan ditemani payung warna pink dan mantel putih transparan miliknya. Rambutnya yang dikuncir kuda terlihat berayun-ayun kesana-kemari, menunjukkan keindahan rambutnya yang pekat. Senyumnya mengembang, tanpa beban, mengalun lembut dengan percikan hujan dan suara cipratan air dari sepatunya.

"Grinda ngapain sih hujan-hujanan?" tanya Dania teman sekelasnya sekaligus sahabatnya. Grinda menoleh dan tersenyum lebar.

"Asyik lhoo, coba pikir deh, kapan terakhir kali kamu hujan-hujanan kayak ginii?!" tantang Grinda. Dania tersenyum sambil mengingat-ingat. Saat dia berumur tujuh. Sudah lama sekali ternyata. Mungkin dia pernah berdiri di tengah hujan, toh karena faktor kehujanan.

"Masa kecil kurang bahagia ya?" ledek Dania tapi dia malah ikut-ikutan melakukan kegiatan yang sama seperti Grinda.

"Kayak sinetron, film drama picisan..." ucap Dania jijik. Grinda tertawa mendengar ucapan Dania.

"Dann..pleasee deh, orang kamu juga ikut-ikutan juga kan?!" sindir Grinda. Dania hanya mengangkat bahu. Sesekali ditendangnya genangan air sehingga mengenai Grinda yang dibalas dengan perbuatan yang sama oleh Grinda. Mereka tertawa lepas, tidak sadar baju seragam SMA mereka sudah basah kuyup.Tidak sadar kegilaan yang telah dilakukan oleh gadis 17 tahun seperti mereka. Mereka hanya ingin bermain, mengulang sepenggal kenangan masa kecil yang pernah mereka rajut keindahannya.

***

Wanita berumur 27 tahun terlihat sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Sesekali diteguknya kopi yang mungkin sudah mencapai gelas keempat. Selain laptop, tumpukan file-file sudah menggunung di depannya. Harus diselesaikan malam ini atau ocehan atasan akan menjadi sarapan paginya besok.

Grinda menghembuskan nafas panjang. Dirinya lelah. Segera dihentikan aktivitasnya yang belum berhenti sedari tadi. Matanya sudah mengantuk memperhatikan layar laptopnya, lehernya sudah pegal karena belum istirahat sekalipun, dan perutnya sudah berteriak karena belum makan semenjak sore. Cukup. Kali ini dirinya harus refreshing sebentar.

Dengan lemas Grinda melangkahkan kakinya kearah dapur. Memeriksa apa yang bisa dimakan. Tidak ada apapun tersisa. Di kulkas juga tidak ada bahan makanan pengenyang yang bisa dimakan. Grinda memutuskan membeli makanan di depan jalan rumahnya.

Hujan. Malam itu hujan turun meskipun tidak lebat dan hanya gerimis yang cukup sering. Grinda mengambil payungnya dan berjalan pelan melewati jalan perumahan yang becek dan sepi karena hujan.

Di tengah perjalannannya, Grinda teringat masa-masa gilanya saat SMA dulu. Meskipun dibilang sudah dewasa saat SMA, dia masih bisa melakukan hal gila. Melakukan apapun meskipun dia sadar usianya sudah 17 tahun. Itu sudah lama, sepuluh tahun yang lalu. Grinda meringis, merasakan sisa-sisa kesenangannya.

Karena berjalan dengan lambat Grinda tidak sampai-sampai keujung jalan. Hawa dingin merasuk memasuki jaketnya. Meskipun jaketnya tebal masih saja dingin itu merayap menembus tulang. Grinda mempercepat langkahnya. Namun, dia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Grinda semakin mempercepat langkahnya dan tidak berani menoleh kebelakang.

Grinda memang takut hantu, namun tidak mungkin pukul tujuh begini ada hal semacam itu. Perampoklah yang ada di pikirannya. Grinda mempercepat langkah setengah berlari. Orang di belakangnya tidak mau kalah dan terus mengejar Grinda. Secepatnya Grinda berlari akhirnya orang itu berhasil meraih pundak Grinda dan menghentikannya. Grinda menoleh dengan wajah takut-takut.

Orang itu tertunduk dengan nafas tersengal-sengal. Wajahnya tertutup capuchon coklatnya.

"Maa..maaf, saya tidak punya banyak uang.." ucap Grinda terbata-bata. Orang itu tertawa. Suara wanita. Wanita itu kemudian membuka tudung capuchon dengan tangannya. Grinda kaget melihat siapa gerangan yang dilihatnya. Wanita itu tersenyum, meskipun sudah sepuluh tahun, wajah itu tetap wajah yang diingat Grinda. Apalagi saat ini hujan, hujan membuat Grinda selalu mengingat wajah itu.

"Daniaaa...apaan sih!! Kok kamu bisa di sini?" teriak Grinda histeris.

"Haha, masa sekretaris perusahaan ternama gak punya uang sih?" goda Dania. Grinda tersenyum senang melihat sahabatnya. Sudah lama mereka tidak bertemu semenjak Dania memutuskan meneruskan studinya di Singapore. Kali ini mereka bertemu lagi di tengah hujan yang mengingatkan Grinda akan masa-masa gila mereka di SMA dulu.

"Yahh..sekretaris perusahaan ternamaaa..." ucap Grinda lirih.
"Eh, jadi lemes gitu. Kamu ngapain Grin malem-malem gini jalan sendirian?"

"Cari makan." jawab Grinda memelas sambil memegang perutnya.

"Oh, kirain. Yaudah ayo balik kerumah kamu aja." Dania menggandeng tangan Grinda dan membawanya berbalik arah.

"Ehh, dirumah gak ada makanan Dann.."

"Haha, tenang, aku udah sediain peralatan 'perang' di mobil. Cukup buat kita gegosipan sampe malem. Hehe."

"Sorry ya, habis aku nggak tau kamu bakalan balik sekarang, setelah menghilang.."

Dania mengangguk-angguk. Dalam perjalanan terbesit ide gila di otaknya. "Grin.."

"Hmm..."

"Gimana kalau kita hujan-hujanan dulu. Mumpung gak begitu deras, ayolah..udah lama gak buat hal gila.." ajak Dania. Grinda menggeleng. Mau cari mati kalau hujan-hujan malam ini, tugasnya masih menumpuk.

"Tugas ngantor numpuk Dann.." keluh Grinda. Dania menghentikan jalannya yang otomatis membuat Grinda juga berhenti. Grinda menoleh kearah Dania yang ternyata sudah melipat payungnya dan membuka jaket coklatnya. Grinda tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu.

"Ayo Grinn..udah lama kita nggak seseruan kayak giniii.." Dania berputar-putar menyambut gerimis hujan tidak peduli blouse yang dipakainya sudah basah.

"Kayak sinetron, film drama picisan.." Grinda mengulang ucapan Dania dulu kemudian bergabung menikmati tetesan hujan dan melepas lelahnya. Sungguh menyenangkan, Grinda tidak pernah lagi merasakan sensasi memori masa kecilnya, perbuatan gila saat SMA.

Grinda dan Dania berjalan menuju rumah Grinda sambil menikmati hujan dan saling bertukar cerita mereka masing-masing. Perjumpaan sahabat yang sudah lama terpisah jarak dan waktu. Saling berbagi kesenangan dan cerita di tengah hujan yang mengingatkan mereka akan masa SMA terdahulu. Sungguh indah masa SMA, terasa manis, tanpa beban. Tidak ada lelah berarti karena hal gila masih bisa menggantikan lelah yang ada.

"So..gimana kabarnya si bos? Katanya kamu kerja di kantor si Andra? Katanya kamu sekretaris dia? Ketemu tiap hari doooongg..wooowww.." goda Dania.

"Dania apaan sih, dia bos aku tau! Bukan teman SMA yang dulu dipuja-puja."

"Alah, alesan. Bilang aja seneng gitu. Haha.."
"Kamu sendiri? Ngapain ikut-ikutan si Dio milih kuliah di Singapore? Buang-buang duit aja!" ledek Grinda.

"Woo, ngalihin topik, bilang aja deh kalau udah kalah. Hehe.."

"Daniaaa..udah deh, bilang aja kalau nggak bisa jawab." sindir Grinda.

"Eh, sorry ya. AKu kuliah di sana karena papa yang nyuruh!" ucap Dania yakin.

"Oh yeah? Masa? Papa yang menyuruh atas paksaan Dania.." ledek Grinda.

"Grindaaaa...awas kamu ya!!" Dania akan melayangkan jitakannya kearah kepala Grinda. Sebelum mengenai kepala Grinda, si empunya kepala sudah lari terlebih dahulu. Mereka berdua akhirnya berlarian di tengah hujan. Tidak ingat bahwa mereka sudah menjadi wanita dewasa. Mereka hanya berlari dan tertawa, melepas semua penat yang mereka rasakan.

***

"Grinda! Dania! Ayo kalian pulang. Sudah sore! Lagian ngapain kalian pakai acara hujan-hujanan segala! Kalian ini sudah kelas tiga SMA!!! Kayak anak TK aja!!" Suara Pak Nirto berlomba-lomba dengan suara hujan menggema di seluruh lapangan. Anak-anak yang masih ada di sekolah, yang tadinya tidak sadar ada dua orang siswa yang hujan-hujannan kini malah melihat kearah mereka.

Grinda menatap Dania dengan senyum yang tertahan. Anak-anak yang masih ada di sekitar sekolah kini mulai mengejek dan menertawakan mereka.

"Dasar anak TK!!!" teriak cowok di depan ruang kelas IPA 7.

"Dasar MKKB..Masa Kecil Kurang Bahagia!!!" teriak seseorang entah darimana.

Grinda dan Dania hanya tertawa mendengarnya. Mereka berdua sudah memutuskan urat malu mereka untuk saat ini. Hanya kebahagian dan kepuasan yang ada dalam hati mereka. Sebuah tindakan sederhana yang mengingatkan mereka akan masa kecil tanpa beban yang ingin sekali mereka rasakan. Tidak ada rasa pura-pura, tidak ada rasa malu, yang ada hanyalah keinginan tulus dan polos dari anak-anak yang ingin bermain-main di tengah indahnya hujan.

Rabu, 13 Juli 2011

Bitter Side of 'Girl-Boy' Friendship

Arlon memandang Citra dengan tatapannya yang selalu sama.

Tidak pernah berubah caranya memandang Citra yang selalu sempurna di matanya, tidak ada yang berubah sama sekali selama mereka bersahabat sejak 10 tahun lalu. Citra yang semakin dewasa menjadi remaja cantik yang disukai banyak cowok di sekolahnya pun tidak pernah berubah di matanya. Tetap Citra-nya yang seperti itu, seperti sepuluh tahun lalu yang masih perlu dilindungi, masih rapuh, dan tetap menjadi peri kecilnya.

"Arlon, kamu dengerin aku ngomong gak sih?" Citra melambai-lambaikan tangannya di depan muka Arlon yang masih terdiam memandang Citra. "Arlon!!"

"Hah, iya-iya Tra, apaan?" Arlon mencoba tersenyum, mencoba menghilangkan rasa malu di depan sahabat kecilnya. Citra hanya melongos kesal menyadari Arlon yang sedari tadi melongo entah memikirkan apa.

"Arlooonnn, aku tuh udah cerita panjang lebar dari tadi. Kamu dengerin dong! Capek nih ngulang lagi.." Arlon tersenyum yang dibalas dengan decakan kesal Citra.

"So, tadi kenapa si Dafi?" tanya Arlon.

"Ya.. gitu deh, kita long distance, Dafi kuliah di Surabaya dan aku sekolah di Malang. Tapi Dafi usahakan setiap minggu pulang..ya kalau dia nggak capek gitu deh..."

"Kenapa harus Dafi?" celetuk Arlon tiba-tiba, tidak sengaja. Arlon menyesal kata-kata itu keluar dari mulutnya. Dia memberanikan diri memandang Citra yang tengah melongo melihatnya.

"Arloooonnn...udah deh, mulai, mulai anehnya.."

"Memang apa yang ada di Dafi yang kamu suka?" tanya Arlon datar tapi ucapannya membuat Citra senyam-senyum sendiri.

"Apa ya? Kalau suka orang sih kita nggak bakal tau alasan, Lon. Kita nggak tau kenapa tiba-tiba suka. Ya, semacam sihir, magic. Makannya, kamu suka dong sama cewek..hehe.."

Arlon mendengus bosan mendengarkan perkataan sahabatnya. Citra hanya tertawa melihat tingkah laku Arlon yang memang selalu aneh jika membicarakan tentang cinta.

"Emang, cewek macam gimana yang kamu suka, Lon? Kok kayaknya dari semua cewek yang ada, yang biasa aja sampai yang secantik Kiara nggak ada yang kamu toleh sejak SMP?" Citra memandang Arlon dengan wajah ingin tahu, berusaha mengulik informasi yang jarang disinggung Arlon selama mereka bersahabat.

"Hmm..ya..yang penting cewek deh. Cantik kan relatif, Tra.." Arlon menjawab singkat tapi hatinya tengah menulis siapa yang tengah dia kriteriakan. Citra mengangguk-angguk paham.

"Kayaknya harus ada biro pencarian pacar buat kamu, Lon. Hehe, bercanda. Habisnya, ntar kamu dikira homo ama orang-orang.." canda Citra yang membuat Arlon mendelik kaget. Arlon dengan segera menimpuk kepala Citra dengan tangannya pelan.

"Dasar...."

***

"Thanks Lon udah ditraktir. Hehe, sering-sering yaa.." ucap Citra ketika mereka sudah sampai di depan pagar rumah Citra.

"Maunya. Yaudah, masuk sana, ntar dicariin lagi."

"Oke, sekali lagi thanks ya, Loonn.." Arlon menjawab ucapan Citra dengan anggukan. Citra berjalan memasuki rumahnya dan Arlon melihat setiap langkah Citra hingga akhirnya Citra masuk kedalam rumahnya. Arlon menunduk kemudian menghembuskan rasa lelah yang disimpannya.

"Cewek yang aku suka itu, Tra, yang aku kenal semenjak aku berumur tujuh tahun. Cewek yang rapuh sehingga harus selalu dilindungi, cewek yang selalu meminta bantuanku, cewek yang selalu menjadi teman bertengkar selama ini. Cewek yang selalu aku antarkan sepulang sekolah, cewek yang selalu menjadi sahabatku. Menjadi sahabat, tidak lebih.Dialah orang yang aku suka, Tra.." ucap Arlon -- tiba-tiba -- lirih.

Dalam keheningan Arlon menutup helmya dan menyalakan motornya. Dengan perlahan dia meninggalkan pelataran rumah Citra. Dirinya bebas karena telah mengucapkan apa yang ingin diucapkannya. Meski hanya dirinya dan Tuhan yang tahu dia tidak peduli. Arlon hanya merasa dirinya senang dan puas kata-kata itu telah terucap dari mulutnya.

Bukan Hanya Dia

Dia selalu menganggap semua baik-baik saja
Dia selalu menganggap temannya baik-baik saja
Tapi dia tak pernah menganggap
Teman yang lainnya baik-baik saja

Ketika seorang menangis karenanya
Dia hanya berkata, "Berhentilah"
Dan ketika seseorang itu menanyakan, "Kenapa?"
Dia hanya menjawab, "Aku ingin temanku baik-baik saja"
Seseorang itu menagis melihatnya
Melihat ketulusan yang terpancar diwajahnya
Melihat betapa baiknya dia..

Namun tidak sepenuhnya
Apakah dia sadar hanya mereka saja yang menangis?
Apakah dia akan meninggalkan sepenggal manis cerita lain?
Cerita tawa, canda, dan kesedihan yang sudah terlukis selama ini?
Hanya teman-temannya yang menangis
Hanya teman-teman yang ada disekitarnya saja
yang dia tahu
Teman yang lain hanyalah abu-abu dan tak terlihat

Tahukah dia bahwa bukan hanya dia yang menangis?
Tahukah dia bahwa semuanya menangis?
Tahukah dia bahwa ada yang lebih menangis daripada
dia dan semuanya...
Karena dia hanyalah orang biasa
Terbutakan oleh pandangan semata
Karena dia hanyalah orang biasa
Yang tak mampu melihat lukisan mata realita
Karena dia hanyalah orang biasa
Yang tak mampu mengetahui kenyataan bahwa
Bukan hanya dia yang menangis...

Selasa, 12 Juli 2011

Arti Sebuah Lagu

“Apa sih arti sebuah lagu di mata Alul?”

Alul selama ini mendengarkan sebuah lagu karena lagunya memang enak didengar atau sekedar sedang hits. Tidak jarang juga karena lagu itu seromantis lagu-lagu milik Secondhand Serenade atau futuristic ala Owl City. Bahkan lagu-lagu musisi Indonesia yang dinyanyikan oleh pengamen lampu merah juga membuatnya suka –karena sering didengarnya. Tapi Alul sama sekali tidak ingin melihat lebih jauh untuk sekedar memahami maksud sang musisi menciptakan lagu.

Sampai akhirnya seseorang bercerita kepadanya di suatu siang. Memanjakan telinga Alul dengan lagu yang tidak pernah dipahaminya. Orang tersebut yang memberikan sentuhan tersendiri hingga Alul memahami makna sebuah lagu.

Hanan : Kamu mirip banget kisahnya sama lagu favoritku. Hehehe.

Alul : Hah? Kok bisa?

Hanan : Bisalah. Dibilang mirip gak percaya.

Alul : Hehehe.keren banget ya kisahku bisa mirip lagu.

Hanan : Betul itu.

Alul : Miripnya gimana? Emangnya lagu apaan?

Hanan : The Script. The Man Who Can’t Be Moved. Lumayan jadul sih lagunya. Ya..miripnya ada sih dikit. Tapi aku sendiri yang ngarang dan nyama-nyamain. Totalannya sih gak begitu sama. Tapi, Lucu ya bisa kebetulan.

Alul : Kayak gimana sih?

Hanan : Menurut cerita yang kubuat…kamu jatuh hati ke cewek dan gakbisa ngelupain dia. Terus ngarepin dia meski dia bahkan nggak peduliin kamu. Meski dia ninggalin kamu. Dan kamu tetep setia di titik manapun buat nungguin dia. Berharap dia akan bilang kamu kalau dia akhirnya ngerasain hal yang sama. Kamu tetep setia nunggu meskipun dia udah bikin kamu sakit. Setiaaaa gitu deh kesimpulannya. Simple kan. Tapi kamu nggak pernah tau.

Alul : Hmm..mungkin iya. Hei, kamu bisa nemu aja bagian kehidupanku yang itu.

Hanan : Karena mungkin ada bagian dirimu yang mudah sekali untuk ditebak. Lagipula sudah berapa lama kita berteman? Berapa lama juga nama Tila selalu kudengar di setiap ceritamu?

Alul : Hehe.Oh, saya mengerti Hanan Sang Penerjemah Lagu. Jadi, kalau aku si The Script yang malang di lagu, Tila si ceweknya?

Hanan : Ya, begitulah. Makannya, kalau dengerin lagu dipahami, lagu itu diciptakan karena memiliki arti tersendiri, Lul.

Alul : Gitu ya?

Hanan : Iya.

Alul : Hmm..iya juga..

Hanan : Gak keren ah!

Alul : Dasar. Emang sampe segitunya ya?! Aku yang gak paham arti lagu atau kamu aja cowok melankolis? Pujangga?

Hanan : Kayaknya opsi pertama yang aku pilih.

Alul tersenyum mengingat ucapan teman sebangkunya – Hanan. Kalau dipikir-pikir benar juga ucapan Hanan. Seolah teringat percakapannya siang itu dengan Hanan, Alul mulai memutar lagu favorit Hanan. Suara serak dan merdu Danny O’Donoghue mulai mengalum dari mp3 di HP-nya. Alul tersenyum, berusaha menggabungkan kisahnya dengan lagu ini. Hasilnya, semua hipotesis yang diberikan Hanan adalah benar. Lagu ini mirip kisahnya. Alul mendengarkan dengan tenang, saat lagu berhenti Alul memainkannya lagi dan lagi. Sebuah lagu memang untuk dirasakan dan Alul berusaha untuk menjadi penikmat yang tidak hanya mengagumi ketenaran sang musisi atau hitsnya. Namun, karena misi sang musisi yang menitipkan arti di balik lagunya.

Rabu, 06 Juli 2011

Edisi Ala Farah Quinn

Saya, kakak, dan adik saya sedang bosan-bosannya liburan. Tidak ada makanan enak, tidak punya TV kabel, dan alhasil leyeh-leyeh di rumah menikmati semua stasiun TV swasta mendengarkan acara musik --berharap banget punya MTV-- yang selalu aja nayangin lagunya ST 12. Akhirnya, saking pingin banget, kami bertiga berniat memasak beberapa minggu lalu. Serius deh, itu karena kemarin malamnya habis nonton Master Chef. Langsung saja kami melongok apa yang ada di dapur : Pisang supergede ( dikasih teman kakak saya ), Mentega. Kesimpulannya kami membuat pisang goreng mentega. Dengan merogoh kocek sedikit kami membeli keju dan susu kental manis.

Resep ala 3 bersaudara
Bahan:
1) Pisang yang buat pisang goreng
2) Keju--saran saya quick melt
3) Susu kental manis

Cara membuat:
1) Pisang pastinya dikupas dulu dari kulitnya.
2) Panasin mentega lalu goreng pisangnya. Lebih enak lagi kalau menteganya dicampur keju yang quick melt (Dibiarkan dulu keju dan mentega jadi karamel baru pisangnya dimasukkin).
3) Kalau udah kecoklatan agak gosong seperti pisang bakar angkat. Kalau sebelumnya belum dikasih keju, taburin pakai keju parut atau craft single yang udah dipotong dadu. Lalu kasih susu kental manis di atasnya. Kalau malas ribet pakai keju dan susu, pakai aja susu rasa keju yang sekarang udah ada di pasaran.
4) Siap dinikmati apalagi ditemani kopi susu atau teh. Yummy.

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic