Selasa, 27 November 2012

Roadshow 5CM Movie ;)

So..hari ini bener-bener unexpected banget bakal datang di event-nya anak sospol BEM FIB..karena karena niatnya saya emang mau banget nih liat roadshow film ini, bukan karena pingin liat film-nya juga sih, tapi karena pingin liat bang Fedi Nuril ama ko Deni Sumargo ;). Saya yang udah dapat undangan langsung-via chat fb-dari teman saya yang panitia awalnya udah underestimate, saya kira dia boongan bakal ngedatengin Dhony Dirgantoro 'penulis', Bunda 'casting', sama cast-nya 'FULL CAST'!!

Kebayang gak sih awalnya saya mau bolos kelas tapi sayang banget dan ngerelain ikut kelas sambil deg-degan nunggu sms dari si Depi yang udah stand by di audit gedung IX kalau kalau bang fedi ama ko deni muncul? Rasanya tiap ngelirik HP udah blink-blink gak sabar buat ngebuka sms dan baca berharap teman saya akan bilang 'belom ada fat..' dan alhamdulillah sms teman saya bunyinya begitu melulu sampai akhirnya saya keluar kelas..yeay yeay!!!

Sudah saya lupakan mata kuliah siang ini mengenai pendidikan Amerika yang benar-benar menggugah selera--pada awalnya. Tapi sayang nan sayang kekuatan fedi nuril dan ko deni tidak bisa membuat kompromi yang nyata. Haha. Oke saya langsung cabs ke gedung IX bareng teman saya sebut saja --mutgeh. Sebenarnya saya lagi in between in the middle alias galau banget nih karena saya ngajak rapat untuk dekorasi stand bazaar, tapi berhubung semua staff saya pada ada di dalam--baca: nonton roadshow 5cm--saya pun ikut masuk. Dari yang tadi saya berdiri dibelakang dan harus jinjit buat liat bang Fedi yang down to earth banget, gak berapa lama saya bisa maju agak depan dan gak perlu jinjit buat liat ko deniii...yaudah lebailah saya teriak --dengan pelang--ko deniiii..dimana para harem pada teriak 'FEDI NURIIILLL!!!' bahkan nih parahnya ada yang teriak 'FAHRIIIIIII!!!!'

Jadi ternyata kewajiban saya sebagai pemimpin rapat tidak mau diduakan dengan hasrat saya melihat roadshow 5CM, keluarlah saya untuk mulai rapat dan alhasil banyak sekali ya staff saya yang tidak datang--mungkin pengaruh demam roadshow yaa.. Oke rapat dimulai dengan hati dan pikiran saya memikirkan bang fedi dan ko deni. Huhu, saya tambah agak --iri-- saat teman saya yang PUAS nonton datang dan cerita..uhuhu...menyesal deh tadi saya gak bolos AS. Yaudah sih waktu gak bisa diulang.

Tapi, pernah gak sih lo ngerasa beruntung di tengah durian yang jatuh ngenain kepala lo? Nah itu dia maksud saya kalau saya se-dang-be-run-tung-se-ka-li!!!! Jadi saya pulang udah agak mau maghrib tuh, nah saya langsung aja deh buru-buru ke perpus karena mau balikin buku--sedihnya kena denda, kurang sial apa coba? Oke, saya sama teman saya si Novi beli pengganjal perut dulu dan saya beli teh kotak lah--setelah mikir sepuluh menit. Pas saya asyik minum teh kotak nan happy segar ada junior nih datang minta teh kotak, karena wajahnya melas saya kasih ajalah--kurang sial apalagi heh? Dan saat itulah momen dari segala momen kesialan berubah jadi BERUNTUNG dadakan, oh yeah? Iye dooongs..saat teman saya Novi bilang dengan lugunya, 'Fathim, itu Junot (Herjunot Ali)' sambil nunjuk ke arah 1 meter saja dibelakang saya. DAAAMN!Oke saya langsung lari ke depan pintu audit mencari cari cast lain, tentulah bang fedi dan ko deni..eh tapi entah kenapa saya tuh saking bingung atau pongo-nya malah bengong liat tingkah snob-nya si Junot!!! Damn! Oke akhirnya saya masuk ke dalam audit setelah orang teriak deniiii!!! Oke saya langsung buka kamera, damn, kenapa sensor touch screen saya melambat?! Saya pun gak bisa foto, keserundul orang lain, ko Deni pergi dan dikawal oleh pengawal yang sooook jahat banget!

Bersyukur lagi karena ada harem harem alias ciwi ciwi keranjingan foto ama cowok ganteng yang berhasil ko deni sehingga dia mau diajak fotoooo. Thanks!!! Saya pun berusaha membuka kamera HP dengan baik dan ambil gambar ko Deni, eh angle-nya udah bagus tinggal pencet ada pengawal yang menampik tangan saya...batal deh foto yang sempurna itu. Tanpa ragu saya mengikuti ko deni yang diiring keluar lagi..saya setidaknya harus dapat foto!!! Di kepala kepikiran teman di rumah yang jauh disan yang suka banget ama ko Deni, dan entah ko Deni mengingatkan saya pada peristiwa lebron james diangkot yang apa banget deh sama temen saya itu. Haha. Okeee..gak kayak Junot yang berusaha masuk mobil, si ko deni melayani permintaan foto tauuu...dia baiiik banget...senyum ramah..uwoo..damn..saya speechleeeesss deh deket dia sampai mau bilang 'ko, foto dong' aja saya susah. Oke, bye.

Itulah pengalaman sore ini yang amat sangat--hmmm--katro dan lucu dan yah menjadi momen yang gak bisa dilupain dan bikin ngakak deh. Selalu. ;)

ini nih ada poto poto pesenan teman saya yang cantiks-cantiks nan ayu (lho? udah siih..) ;) 


*photo courtesy by Ainun (pic 1), Jalal (Pic 6,7), Me (2,3,4,5)

Senin, 26 November 2012

Summer Love

Sebenarnya sih kita berdua memang berteman. Tidak begitu dekat tapi cukuplah untuk bisa saling mengetahui kegemaran masing-masing. Waktunya sempit sekali, dimulai dari tahun ajaran baru diumur saya yang masih sepuluh tahun, kurang lebih. Sepertinya mungkin sifat saya yang susah menerima lingkungan baru membuat saya hanya bertahan enam bulan di dalam lingkungan itu dan semua berawal terhitung bulan juli sembilan tahun yang lalu.


Saya tidak begitu senang berkumpul dengan dia, terutama karena dia akan memainkan permainan anak laki-laki dan saya perempuan. Saya tidak mau diajak bermain bersama anak laki-laki, sedangkan dia selalu mengharapkan saya untuk ikut, selalu bisa menemukan dimana saya berada. Aneh. Benar, orang yang aneh. Saya rasa mungkin tempat itu sunggulah kecil sehingga dia bisa menemukan saya kapan pun, tapi entahlah, ternyata di luar sana saya bertemu dengannya. Seperti biasa, dia tersenyum, menyambut tangan saya yang kosong dan menariknya, membuat tubuh saya ikut dalam permainannya.

Dia selalu tersenyum dan memegang tangan saya, seolah itu miliknya, selalu ingin duduk di dekat saya seolah saya ini hanyalah seorang yang ada di dunianya. Selalu memberikan senyuman yang saya sama sekali tidak menyukainya tapi saya sangat senang akan keteduhan senyumannya, sesekali. Seperti itulah setiap harinya selama enam bulan. Ayahnya akan menjemput saya dirumah dan saya akan bertemu dengannya lebih awal sebelum pelajaran bahkan belum dimulai. Menyebalkan. Sungguh tidak suka saat melihat dia membuka kaca jendela mobilnya dan meneriakkan nama saya dengan raut wajah bahagia. Menyebalkan. Saya memang harus bersabar untuk bisa keluar dari semuanya.

Tapi benar, semua itu tidak selamanya. Seperti penutupan akhir tahun, saya menutup kegiatan saya di tempat itu. Tidak ada lagi kegiatan di luar yang membuat saya bisa bertemu dengan dia secara kebetulan, sungguh aneh. Sepertinya waktu perlahan menjauhkan jarak kami, tentunya saya bersyukur. Saya tidak perlu takut memikirkan bagaimana saat saya bertemu dengannya nanti, larikah? Atau diam dan mengikuti semua ajakannya? Saya tidak perlu mendengarkan celotehannya yang membosankan, tidak perlu menjadi bahan lelucon dia dan kakak lelakinya, tidak perlu dipermainkan lagi meski saya tahu dia tulus, sangat tulus malah.

But we have to say goodbye,just promise that you won't forget we had it all*

Sembilan tahun berlalu, terkadang sesekali setahun lalu saya tiba-tiba tertawa mengingatnya. Ternyata masa kecil saya lebih berwarna daripada masa remaja saya. Benar kata seorang teman kalau pada saat kita kecil segala sesuatu berjalan seperti biasa, sederhana. Mungkin kamu di luar sana sudah memiliki 'bumi' baru yang siap kamu orbit. Saya masih membayangngkan, menerka-nerka seperti apa kamu sekarang? Masihkan dengan rambut yang lurus itu? Rambut yang kecoklatan kan? Hmm..dan mungkin lebih banyak luka karena kamu sudah jadi seorang 'lelaki' sungguhan sekarang, karena dulu saya tahu kamu sering berkelahi, sok jagoan. 

Kamu tahu hal yang saya benci selama ini yang membuat saya tidak suka kepadamu dan kakakmu yang sok keren itu? Sebuah percakapan yang sungguh merendahkan di siang hari saat kita bertemu di sebuah taman hiburan, ayah kita saling berbincang dan membiarkan saya bermain dengan kalian berdua. Kamu meninggalkanku sendirian dengan kakak-mu yang usil itu. Entah kemana, seingat saya kamu kembali dengan membawa kue marie pemberian ayah saya. Kamu mau tahu apa yang dikatakan kakak-mu yang sok itu?

"Adikku suka kamu..kamu tau nggak? Kamu suka dia nggak?" 

Saya terdiam tidak mengerti ucapan itu, suka? Suka yang bagaimana? Kakakmu yang sok itu kemudian mengenggam tangan saya, seperti yang biasa kamu lakukan. Hmm..entah mengapa saya tidak suka, dia terlalu...genit untuk anak kecil seumuran saya. Meskipun yaa, jarak kami berdua hanya empat tahun.

"Atau kamu suka sama aku ya daripada dia?"

Mungkin itulah kenapa saya benci kalian. Kalian yang masih bocah itu menyebalkan berbicara tentang cinta. Memang kalian tahu apa artinya? Kalian, dua bersaudara yang menyebalkan!


Cause you were mine for the summer
Now we know it's nearly over
You were my summer love
You always will be my summer love
(* One Direction-Summer Love)

Minggu, 25 November 2012

Cliche

Wah sekarang sudah berapa tahun saya ada di dunia? 19 ya? Wah saya tidak menyangka.. waktu rasanya cepat sekali ya, kenapa sih begitu cepat? Saya masih ingat sekali kenangan masa kecil yang seakan menyapa kembali--tidak ingin diduakan. Saya paham mengapa memoar itu menyeruak seakan ingin meneriakkan bahwa dia saja yang perlu diperhatikan. Memang apa saja sih sejumput kenangan bernilai mahal yang pernah saya lewati namun hampir terlupakan tergerus sang zaman? Saya ingin merangkai kembali ingatan itu dan kemudian saya satukan seperti hamparan puzzle yang haus untuk disusun atau sekumpulan mozaik yang ingin diselesaikan. Semua ini hanya untuk satu alasan, agar tak tergerus waktu, tak hilang oleh zaman.

Masih saya ingat wajah lucu kakak saya, dengan pipi bulatnya, bedak tebal yang ditaburkan di wajahnya yang polos, kemudian baju seragam TK warna kuning yang manis, rambut pendek tipis yang disisir klimis oleh Ibu saya. Sekarang dia siap berangkat, menunggu abang becak tetangga sebelah yang siap mengantarnya pergi ke TK yang berjarak dua kilometer dari rumah kami. Setiap hari saya melihat ibu saya mengurusnya, tidak kalah sering bapak saya malah yang menyiapkan segalanya. Di rumah kontrakkan yang nyaman ini keluarga kami hidup, meski waktu itu saya jarang makan oreo, tapi krupuk dengan harga lima puluh perak dan es dengan harga seratus perak sudah cukup mengganjal perut anak kecil seumuran kami yang suka sekali jajan.

Setiap perjumpaan, pastilah ada perpisahan. Setiap kehidupan, pastilah ada kematian. Hidup ini seakan-akan mempunyai siklusnya tersendiri. Hanya Tuhan yang tahu. Nenek saya meninggal. Sebuah pukulan, sebuah kenyataan. Tidak akan ada lagi malam sabtu yang indah bermain dragon atau columbus di Gadjah Mada Plaza, atau sekedar membeli Es Mony, Trakinaz, atau Kue bentuk binatang-binatang, atau es bon bon. Tidak ada lagi yang bakal membangunkan kami di hari minggu dinihari karena bakso Lek Thoyib datang, tidak ada lagi yang akan makan bakso hanya dengan daun kucai dan kuah tanpai diberi saus atau sambal. Tidak ada lagi yang akan memberikan sesuatu yang saya minta dalam sekejap. Segala sesuatunya telah berhenti bersama detak jantungnya. Berakhir, ya itulah namanya perpisahan.

Orang-orang datang dan pergi dalam kehidupan saya begitu saja, tanpa ucapan selamat tinggal tanpa pemberitahuan bahwa dia telah datang. Sama seperti yang dilakukan nahkoda di dalam kapal kami yang hampir karam sepeninggal almarhumah nenek saya. Sang Nahkoda menghilang entah kemana, tanpa kabar, seperti angin. Sepertinya dia tengah menemukan halauan baru untuk kapalnya berlabuh. Kehidupan ini menjadi semakin mencekik ketika kakak saya--si anak manis-- yang kini tengah berusia empat belas tahun berubah menjadi tak terkendali. Lingkungan membuatnya berubah, maklum anak laki-laki. Saya yang entah merasa biasa-biasa saja dengan hidup dan tidak ada yang pernah saya permasalahkan. Kecuali, kehidupan di rumah sangatlah tentram tanpa Sang Nahkoda pada akhirnya.

Sang Nahkoda kembali setelah melewati perjalanan jatuh bangunnya, yang saya tahu pandangan saya telah berubah, untuk apa ada dua nahkoda dalam kapal kami? Saya rasa, ibu saya telah mahir dalam hal navigasi dan ilmu nautika, sehingga tidak perlu lagi dia kembali, ibu saya cukup mengerti bagaimana membawa kapal ini terus dan terus berlayar selagi mampu, tanpa dia tentunya.

Oh, ibu, sungguh, apa yang selalu kupelajari dari dirimu adalah betapa besar hatimu, keikhlasanmu menjalani semua ini. Mungkin banyak diluar sana orang lain sepertimu tapi aku tidak bisa membayangkan orang itu ada disebelah saya, yang membesarkanku selama sembilan belas tahun ini dengan keringatnya, kasih sayangnya. Ibuku yang mengeluh dalam diamnya, ibuku yang menangis dalam sujudnya tiap malam, tapi kau tak pernah mau mengatakan bahwa kau menangis, Bu. Ibu, jangan bertambah tua ya, rambut ibu tidak boleh putih, ibu tidak boleh sakit, ibu harus tetep bisa jalan jauh, ibu tidak boleh langganan ke dokter ya karena sakit hanya untuk orang kaya bu, ibu harus liat saya tumbuh besar dan jadi tua, bahkan ibu harus melihat saya punya uban bagaimanapun caranya. Bahkan kalau boleh, biarkanlah saya yang menanggung rasa sakit yang ibu rasa. Biarlah saya menggantikan tahun-tahun yang ibu lewatkan untuk membesarkan saya, ibu, jangan bertambah tua ya? Ibu harus tetap seperti biasa.


Mother, how are you today? Here is a note from your daughter,
With me everything is ok
(Maywood-Mother How Are You Today)

I Dream, Therefore I Become

a big deal for us having a dream, in this small world we have to elaborate our dreams to become bigger or you want to keep it steady as ever and become a looser, life is your choice that you're living in. So, if you said a dreamer are waste people you're definitely wrong, because we never waste our time for dreaming, we just think about the way to make it comes true in every single day, every single step we take. Tell me your dreams ;)

Pernah nggak sih merasa menginginkan sesuatu tapi sukar diraih atau kita merasa itu terlalu besar atau tinggi untuk diraih? Terkadang kita terlalu pingin menyudahi atau terkena ucapan sekitar kita yang bilang kita 'ngayal' lah atau 'gak realistis' lah, pada intinya sih segala sesuatu gak ada yang gak mungkin--kecuali hal hal absurd yang emang susah buat direalisasikan, itu udah beda cerita.

Saya pernah merasa demikian. Sering malah. Impian saya sih terlalu banyak, terlalu di 'obong-obongi' oleh api revolusi dalam jiwa saya yang siap meledak-ledak, jiwa muda yang seakan tidak pernah puas dengan segala sesuatu yang dinamakan 'hal baru' sehingga saya selalu ikut-ikutan arus umum. Sebanarnya bukan maksud saya untuk menjadi follower, tapi untuk bisa memulai menjadi trendsetter saya harus melihat kecenderungan umum yang ada di dalam sekitar saya, kemudian saat mereka menemui titik jenuh seperti kata law of diminishing return-nya seseorang yang saya-lupa-namanya, barulah saya jadi agent of change yang memberikan suntikan inspirasi.

Well, ternyata nulis gak semudah merealisasikan, seperti kata Heather Sutherland dalam bukunya The Making of Bureaucratic Elite, 'teori boleh aja sih ada tapi kadang teori gak sejalan dengan praktek'. That's the way it is ya dalam hidup emang demikian, segala planning cantik pasti juga gak 'semirip-mirip' ama yang kita pingin banget laah. Tapi setidaknya ada bagian hidup saya yang saya suka, mimpi. Namanya juga mimpi, seminim-minimnya saya ingin mimpi saya jadi kenyataan. Syukur alhamdulillah, selama ini apa yang saya inginkan--yang berbau positif, minus polaroid instax idaman--sudah dapat saya capai. Ya, memang sih belum maksimal-maksimal banget yah, namanya juga masih melalui sebuah proses, mau hasil cepat? Ya pasti nanti hasilnya juga instant juga dan sifatnya temporary. No, i want those dreams long last in my life in my soul..

Kadang sedih, iri, greget ngeliat beberapa teman SMP yang udah go international ngenalin culture indonesia ke luar negeri. Ya meskipun cuma di Asia Tenggara sini tapi mereka udah keren banget bisa have their own very first passport, yang mereka buat atas usaha sendiri dan perjuangan sendiri, ikutan program exchange. Kadang miris mikirin saya sebagai salah satu mahasiswa universitas mentereng belum bikin terobosan satu pun exchange, yah minimal exploring negeri sendiri aja masih nol. Nol banget, do nothing and no progress.

Ah, yaudah sih daripada saya meratapi hidup yang miris the only and only yang harus saya lakukan adalah fix my ability in speaking more than one language..english will be my priority..yah belajar american english lah, atau afro-american dialects pasti keren, banyak mau. Bismillah saja meski gak belajar bahasa inggris dengan bener, nulisnya masih salah-salah grammar, pas tes toefl ada keajaiban sehingga bisa nyampai 550, Amin. Oke dari sekian banyak mimpi saya, yang saya mau banget dan banget--bukan mau aja--adalah..teng teng...
 
Study Abroad yeah!!

yah tidak bisa dipungkiri semua orang juga berpikir demikian, tapi i bet mimpi saya ini beda daripada yang lain, bedaaaa lah. Setiap orang memang  boleh punya mimpi yang sama, tapi kontennya itu lho berbeda dan semangatnya sudah berbeda. Yang jelas saya susah menjelaskannya bagaimana, pokoknya beda aja. Jadi impian saya adalah kuliah di salah satu uni di Amerika, it must be ivy league, tapi sepertinya itu terlalu tinggi yah..tapi bolehlah saya bermimpi tentang Hardvard, dulu toh saya juga mimpi tentang UI, gak ada salahnya kan?

Maunya sih masuk Princeton atau yaah bisa masuk Cornell University, heehe. Jurusannya sih maunya Woman and Gender atau Southeast Asia Studies. Why? Alasannya? Hmm..Princeton deket sama rumahnya Albert Einstein di Jersey dan dulu Einstein pernah ngajar disana, jadi saya kepingin lihat sculpture-nya beliau dan merasakan zeitgeist-nya ala Einstein. Haha, terus kalau Cornell, hmm..apa yah, karena saya masuk jurusan sejarah, dan literature yang saya pake kebanyakan ditulis orang Cornell, dosen saya juga menyarankan saya belajar sejarah dengan 'liberal' di Cornell jangan di Leiden..hehe..Amin ya Allah, sekarang things i have to do is that belajar, bikin paper yang menarik dan berkualitas, dan fix my language problems. Bismillah saya bisa 'merayu' dosen luar untuk mempromosikan saya beasiswa S2..Amin Ya Allah..i do believe in what Mas Bondan said, 'Just fix your english, keep your GPA, get 550 toefl score, write a letter or e-mail to the uni which you choose, and they will grant your request..easy to study abroad, it depends on your will..'

Jumat, 23 November 2012

Delusi

Sungguh indah, tapi tak bisa dimiliki, tak seorang pun bisa
Sosok yang terkungkung dalam dunia kecilnya sendiri
Sepertinya keindahan sang dewi pun tak mampu membuatnya berpaling
bahkan hanya untuk sedikit mengintip ke arah sosok cantik yang berhasil mencuri lirikan para adam
Itu membuatku sedikit risih, sedikit bertanya,
makhluk apakah kau ini? punya hati kah? 
atau kau hanya memiliki hati yang sudah membeku seperti bongkahan balok es?

Mungkin itulah fase dimana sebuah es perlahan mencair
membasahi tiap rerumputan yang kering dan menyegarkan tanah yang berabad-abad tandus
hanya satu hal saja bisa membuat segalanya berubah
tiada lagi sosok yang sulit diraih itu
tiada lagi sosok yang terkungkung dalam dunianya sendiri
tiada lagi sosok yang membeku seperti balok es
hanya sosok indah yang semakin lama terlihat indah
saat dia meniupkan angin sejuk yang menyapa kala sore
saat dia mengguyurkan tetesan air di negeri tandus tanpa oasis
saat dia mencoba berkata di tengah kesulitanya untuk berkata
sangat segar sekali seperti bongkahan es yang mencair dan membasahi tiap bagian yang kering

tapi semuanya terasa sakit kemudian
orang memanggilku dan menyangka aku ini gila
lihatlah pada cermin, kata mereka padaku
aku lihat sosokmu itu disana, tapi tidak ada kata mereka
oh, sungguhkah ini hanya sebuah mimpi saja?
tapi aku terbangun, aku merasakan, setiap detail, hingga hal terkecil pun aku merasakan
sosokmu nyata tapi benar orang tidak melihatmu
sosokmu menari-nari seakan ingin menertawakan orang-orang itu
aku tersenyum kecil, menanggapi setiap detail lekukan yang kau lakukan
benar, orang-orang lah yang gila, bukan aku, pikirku
kunikmati setiap desiran dan memandang sosokmu yang sunggu indah itu


I know you’re not far away, I close my eyes and I still see you
Lying here next to me, Wearing nothing but a smile 
(Standing in The Dark-Lawson)

Terlalu Sempit atau Terlalu Kenyataan

Saya seorang mahasiswa, semester tiga, disebuah universitas no.1 di negeri ini- bukan, hanya sebuah universitas yang dianggap no.1 karena bertitel nama bangsa dan negara saya 'Indonesia'. Universitas yang kata dosen saya sih 'seharusnya' mewakili negara saya di kancah internasional--eh toh dalam kancah dalam negeri aja kadang kita masih bisa kesalip dengan yang lain. Terkadang saya sih banga, kadang saya juga skeptis dengan universitas saya ini. Kenapa?

Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan Sutan Sjahrir di momen-momen kemerdekaan, dia plin plan, penuh paradoks, menimbang-nimbang antara 'ya' dan 'tidak' sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengambil jalan paling ekstrem dalam hidupnya, 'bekerjasama dengan kolaborator jepang-soekarno pada waktu itu'. Ya inilah juga yang saya alami, jiwa muda saya memberontak, tidak menimbang sisi yang benar, yang saya mau adalah gebrakan, sebuah gebrakan dalam keluarga saya bahkan di kampung tempat saya dilahirkan atau di sekolah tempat saya menuntut ilmu, 'Masuk UI'. Ibu dan Bapak saya selalu dan selalu mengingatkan, apakah saya mampu?, apakah saya bisa mandiri?, apakah saya puas dengan pressure? Segala pertanyaan itu saya jawab dengan satu anggukan mantap namun keraguan kemudian. Keraguan apakah saya mampu. 

Pesimis? Bukan. Tidak. Saya tidak pesimis saya tidak mampu. Sekali lagi saya kecewa dengan segala motivasi yang diberikan oleh orang mentereng sekalipun, ragu tidak berarti pesimis, ragu berarti memikirkan sebelum bertindak, lebih tepatnya saya adalah berusaha optimis, tapi optimis saya ada batasnya. Saya harus memikirkan ketika saya gagal, bukan menyugesti kalau saya gagal, itulah kenapa selama ini kita mengenal plan A, plan B, plan C. Plin plan kalau teman saya mengatakan mereka optimis tapi mereka masih saja membuat plan A, plan B, plan C dalam kegiatan atau rencana mereka. Klise bukan? Kalau kamu OPTIMIS, maka plan A saja cukup. Itulah kenapa saya benci motivasi, saya lebih suka mencari dan mencari. Saya selalu memikirkan kegagalan, kata teman saya itu malah menyugesti saya untuk gagal, sekali lagi, saya hanya berusaha bekerja dibatas kemampuan saya, itulah mengapa selama ini ada analisis SWOT bukan? Kalau anda optimis, tak perlu anda mengadakan analisis SWOT, karena poin W dan T malah menunjukkan kelemahan anda. Yang kata motivator itu 'menyugesti' anda untuk gagal.

Permasalahannya adalah saya seperti kehilangan sebuah arah. Entah karena nahkoda dalam tubuh saya ini yang mulai hilang arah atau navigasinya yang berantakkan. Saya berpikir UI ya, UI. Biasa saja, sebuah kampus yang karena letaknya dekat ibukota memberi kesempatan lebih pada mahasiswanya. Fasilitas lebih? Tentu, bayarnya juga mahal. Pasti-lah karena kita membawa nama 'Indonesia' tentunya negara lain notice ya sama universitas saya sehingga mau tidak mau pemerintah juga berusaha membuat UI terlihat bagus, bukan? Terlepas dari semua universitas yang ada, semua bagus kok, cuma sayang gak ada embel-embel 'Indonesia' sehingga ya kemajuannya bersifat kedaerahan, tidak ada prestise tersendiri dari namanya. Intinya semua mata tertuju pada UI karena embel-embel 'Indonesia' dan karena embel-embel itulah UI bisa maju sedemikian rupa. Sebenarnya kalau saja misal Universitas Sam Ratulangi, Hasanuddin, Cendrawasih, Brawijaya, Airlangga, atau beberapa universitas lain, terletak di ibukota negara dan lupakanlah nama lama mereka dan beri sedikit sentuhan nama 'Indonesia', nasib sistem administrasi dan birokrasi di dalamnya akan menyerupai UI. Jadi kenapa sih universitas di daerah saya gak se-'WOW' UI? Ya karena universitas ini terdesentralisasi, punya birokrasi sendiri meski ada dalam naungan Dinas Pendidikan, umumnya di daerah yang pembangunannya gak lebih bagus daripada pusat--penyakit era kolonial yang masih tumbuh hingga sekarang tepatnya, masalah desentralisasi.

Dulu saya menganggap, kenapa saya harus kuliah di Malang kalau UI memberikan banyak akses untuk saya ke depan, selangkah lebih maju-lah istilahnya. Saya menjelek-jelekkan sistem universitas di daerah saya tanpa tahu perkara dan tahu kenyataan. Saya maunya UI, kalau bukan UI saya mendingan tidak kuliah. Pemikiran kolot saya yang harus saya ubah. Satu hal yang saya pelajari selama ini adalah 'tidak ada orang pintar, yang ada hanyalah orang yang lebih dulu tau'. Pada akhirnya saya cukup malu dengan pemikiran sempit saya dulu kalau universitas lain tidak seberapa dibanding UI. Saya malu saat mendengar UI tidak menang dalam PKM atau kontes robotika. Hanya dua hal itu? Tapi cukup membuktikkan kalau semangat mahasiswa disini--termasuk saya--tidak seberapa dibandingkan sekolah pelosok di luar sana. 

Dosen saya--Mas Didik--pernah cerita, di UB mereka mengirim 140 makalah untuk sebuah olimpiade atau apalah saya lupa dan UI hanya mengirim 40 makalah. Hasil akhir? UB hanya lolos 25 makalah dan UI 40 makalah lolos. Satu kelas tertawa. Saya hanya memandang miris. Apa yang kalian tertawakan? Anak UB memiliki semangat bersaing tinggi, berani meskipun mereka tidak diterima atau kalah, setidaknya mereka mencoba meski banyak calon yang berguguran. Malu sekali universitas saya yang isinya berapa ribu itu pemberaninya cuma 40, kacangan sekali ya--termasuk saya. 

Kenapa sih masih mau membanggakan UI kalau saya belum memberi sepak terjang yang berarti? Kamu bangga mungkin--termasuk saya-- masuk UI diajar oleh para dosen yang lebih 'liberal' daripada dosen di universitas daerah, tapi, apakah itu akan berpengaruh pada pemikiran anda selanjutnya? Saya rasa saat saya mengaku anak UI itu adalah beban, bukan kebanggaan. Bangga adalah saat saya mampu menunjukkan kalau saya layak. Sekarang coba anda lihat, apakah dosen UI semua lulusan UI? Nggak kok, banyak yang lulusan universitas daerah, namun karena semangat mereka untuk maju itulah yang membuat mereka bisa menjadi orang ternama dan bisa jadi dosen-dosen hebat di UI. Sekarang hanyalah merubah mindset saya saja sih tentang pemikiran sempit dan underestimate kepada universitas daerah yang ecek-ecek atau memang kenyataan lapangan kalau UI memang layak untuk didewakan. Sedikit merenung mungkin bisa memberi pencerahan.

Senin, 19 November 2012

Romantis Dikit Boleh Lah Ya..

Jadi pingin feeling romantic plus magical aja nih gara-gara suasana dingin, bau tanah abis ujan, mendukung banget buat cerita romantis-romantisan atau sekadar galau ngitung umur yang udah mau kepala dua (padahal masih 8 bulan lagi). Yah..tuntutan hidup disekitar orang yang well grown up kali ye jadinya ikut those mainstream padahal ya belum completely grown up at this moment atau emang puber saya yang telat kali ye...

Terlepas dari pembicaraan puber yang telat atau dewasa kecepetan itu sih urusan pemikiran ya, kalau urusan galau atau ngayal sih semuanya punya, gak peduli udah puber, setengah puber atau masih bocah, semua pasti tau lah perasaan 'in between' ama 'day dreaming' haha..ehm, jadi nih rasanya saya punya idealism sendiri nih tentang romantis..cihuy..ya bolehlah ngarep dikit dikit..

1. Boy, Guy, Man, etc. Apa ya, kalau boleh nih ngayal kriteria orang yang diidamkan, ehm, berasa take me out aja deh, saya sih maunya yang gimana yaahh..yang hmm..pastinya tinggi dong, jago olahraga, cerdas bukan pintar, yang jelas orang yang bisa handle sikap spoiled saya ini..haha oh satu hal...harus pake kacamata kayak clark kent, meski geek tapi tingkahnya superman dong :D wink wink...jadi kriterianya...it must be:
-cowok normal seumuran atau diatas saya setahun
-preppy look lengkap dengan kacamata 'clark kent'-nya
-wangi sabun mandi bukan parfum yang bikin saya pusing
-tinggi dengan bahu yang bidang kayak di komik komik jepang ;)
-apa ya apa ya, suka bercanda gak diam kayak patung haha
-suka wisata kuliner tanpa takut makanan sejenis kacang bisa bikin jerawatan
-jangan terlalu mesos pleasee tapi jangan gak keurus juga...big no!
-bisa main gitar!!!!! 
 2.Romantic Dates. Ehm, pasti cewek cewek di seluruh jagad raya pernah deh ngayal atau ngebayangin gimana first date atau another date lainnya..kalau saya sih..ehm, intinya romantic date pastinya harus ada di skydining, terus-terus langitnya cerah dan banyak bintang, terus tiba-tiba dia ngeluarin gitar..jeng jeng dia nyanyi, eh pas tau dia suaranya mirip John Mayer..haha..geez..if, if...if i could i would turn back the time...huahaha..so my romantic dates must be:
-skydining
-ada musik akustik yang dinyanyiin sendiri ama cowok itu
-kalau jalan-jalan i think bookstore is perfect choice ;)
-jalan jalan di hujan tanpa takut kehujanan
-makan di tempat yang minimalis dengan menu western sambil ditemani lagu-lagu repackage ;)
-nonton konser the script atau chicago..
-naik carousel :3
ups banyak mau yah tapi yang mau sama saya gak ada..haha...ups, adalah someday, somebody's out there somebody's somewhere lah kalau kata Archie..haha ehm, so, boleh lah saya sedikit punya kriteria haha..yah peduli apa kalau ketinggian namanya juga kriteria, sama aja saat kamu ditanya sama orang tua 'mau makan ayam atau batu?' nah sama juga sama saya 'mau kriteria tinggi atau jelek?' hehe aneh ya, yaudah sih, bye.

Sabtu, 17 November 2012

Jumat, 16 November 2012

I 'Heart' Jakarta

maybe, a cliche thing is that when i suddenly realized that i adore Jakarta. Why? I aint kind of high-class'ism' or something, but, honestly, deep inside my heart, Jakarta's one of my favorite city, no metropolis. I always dream about having a night trip in Jakarta. I love to see how the traffic's going and the beautiful lights at night..totally freaky damn thing that i dreamed for years. Ya Allah, Your Greatness lead me here, watching your beautiful painting and i was reallllllyyy grateful having two perfect eyes to see everything around. Alhamdulillah, Subhanallah..
 
'pasar kaget' on busway shelter

One-Sided Happiness

Buang-buang duit? Iya siih.
Tapi mau kapan lagi? Mau terkungkung di dalam kosan mikir hemat duit?
Terkadang kamu harus membahagiakan diri kamu
Emang cuma satu sisi, saat orang lain ada yang bilang itu 'pemborosan'
Tapi tapi tapi itu adalah sebuah paradoks kehidupan
Di satu sisi bagus untuk melepas stress, di sisi lain?
Yah, memang, hidup itu pilihan..


Sevel-Plaza Semanggi Tour

Married? Today? Ups, BIG NO!!

Hari ini saya menikah. Tapi karena persahabatan saya dengan teman saya, saya menolak untuk datang di acara resepsi pernikahan saya. Saya sudah membuat janji untuk sleep over di rumah teman saya, menikmati indahnya malam jakarta dan hiruk pikuknya. Dengan nekat saya putuskan meninggalkan ruangan resepsi, saya rasa, saya sudah resmi menjadi istrinya dalam sumpah tadi pagi, sekarang hanya resepsi, saya bisa meninggalkan tempat resepsi, hanya saling bersalaman ini..

Saya pergi, dengan alasan klasik sih, 'ke kamar mandi'. Haha, bodohnya orang-orang itu, dalam 30 menit saya tidak kembali, saya berada di jalan saya yang lain. Saya harus menginap di rumah Ainun, pesta bujang saya mungkin. Sudah seperti yang saya bayangkan, semua orang panik, berpikir kemana saya pergi. Salah seorang teman saya kaget dengan ucapan saya bahwa saya sedang menuju rumah Ainun untuk menginap dan rela meninggalkan orang yang beberapa jam lalu resmi jadi suami saya. Teman saya bingung dalam perjalanan menuju tempat resepsi. Di jalan, dia bertemu dengan teman saya yang lain, Fahmy. Sama bingungnya dengan teman saya, Fahmy bertanya, 'Fathim mana sih, gila banget tuh anak suaminya ditinggal, masa iya dia lagi nikah acaranya ditinggal?!!'

Ya oke, jadi itulah skenario mimpi teman saya pagi ini. Dasar efek ngebet kawin kali yah tuh anak, yaudah si  cuma mimpi ini..haha, realisasinya 10 tahun nanti..haha, ups? kelamaan? Yaudah sih sukses dulu laahhh..Tapi ada hal yang bikin saya dongkol, teman saya malah terbangun sehingga sampai sekarang nggak ketahuan saya nikah ama siapa. Padahal kalau ketahuan kan lumayan..haha, ups, gak juga, kalau anak sejurusan saya gimana hayoo??? Hiks...

Kalau saya mau nikah nihhh maunya sama ini..boleh gak? Hahha

p.s: pics

Kamis, 15 November 2012

Happy Anniversary, Historia!

Anniv? Er, i dont think so, but if i count down it would be 25-days-to-go to Dec, 10th. It reminds me of Petang Kreatif a year ago, a place where people mingle and cuddling together, a moment where i finally realized we're together as one family,,ouch..lil bit romanticism. haha

erm, eh, people change and so do i, in this pic was a picture of us  'almost' a year ago, now on ririn isnt fatty, usman's more chubby or something, eh, bald of course..haha, not too bald, almost bald but he finally gets his hair back, kartika's the same i guess, and me...humm..i think i've lost few kilos in a year..haha..not too much but i think that's good, yeah so so..hehe

Photobucket


Crazy Little Thing Called Love's Victim

once she's an ordinary girl, now she's an extraordinary girl, being stylish, loosing her weight, totally perfect and little bit magical..maybe guys, if you wanna be someone different, you have to fall in love at first then it would make you do the same way as her..really..err..i just cant stand for the kind of cheesy thing anymore..haha joking..

oke now my wish is that 'i hope that bad-ass 'froyo' will turn his
head into you (Fingers crossed)
then
Photobucket
now
Photobucket

Selasa, 13 November 2012

Perlu Realistis Kah?

Ya, emang sih saya kaya ide miskin realisasi, sebenarnya pertanyaan mendasar adalah 'ide saya yang sangat susah direalisasikan atau emang anda yang gak mau merealisasikannya, pak, bu, pejabat terhormat?' Kadang sih saya merasa kuliah di jurusan sejarah, mau ngapain ya? Mau jadi dosen sejarah, kata fakultas sebelah sih, 'ngapain kamu jadi dosen? males ah kerja di pemerintahan.. ngapain kamu mau ada di birokrasi, gaji minim, gak bisa maju, mending wirausaha atau kerja di perusahaan swasta.'

Yah, kadang saya pingin protes, tapi memilih bungkam. Saya juga iri sama cerita orang itu kalau saudara-saudaranya sukses disana-sini atau minimal lah kuliahnya mentereng di fakultas yang ber'titel' mahal itu. Tapi kadang saya bingung juga sama mereka, keberhasilan mereka tuh dinilai dari uang-kah? saya gak naif, saya suka punya uang banyak, saya mau banget ditawari kerjaan dengan gaji banyak, apalagi perusahaan swasta, asing lagi. Tapi ya..kalau saya nanti bisa kerja disana sih, kalau nggak? Ya optimis boleh sih, tapi saya di doktrin untuk memikirkan bagaimana kalau saya gagal..ya salahkan bapak saya aja deh. Saya nggak pe-si-mis juga sih, kalau saya pesimis ya saya give up dari kemarin-kemarin. 

Sebenarnya saya positif aja sih jadi mahasiswa sejarah yang pasti 'sumpah' dimata teman-teman saya 'apa banget'. 'Kamu itu tim belajar masa lalu, kalau kami belajar masa kini..' kata teman saya, oalah saya tau deh kenapa ya, gayus yang lulusan sekolah akuntansi mentereng itu korup, ya karena mereka gak belajar dari sejarah. Kalau mereka belajar dari sejarah, pasti mereka sadar kalau tindakan korup tuh tindakan kumpeni, kumpeni itu orang jahat. Coba para petinggi-petinggi negara belajar sejarah agak bener dikit deh, pasti mereka setidaknya belajar dari masa lalu gimana pejuang membangun negeri yang baru ini, memperjuangkan kemerdekaan, biar gak sibuk sendiri memikirkan idealisme partai mereka aja. Ujung-ujung bentrok ujung-ujung korup.

Saya tau kok pasti pemerintah lebih memikirkan gonjang-ganjing keuangan, indeks harga saham, kurs valuta asing, nilai tukar, masalah 'rekonstruksi' sejarah dan kebudayaan itu bisa aja dibilang, hmm, khayalan kali ya, gak realistis. Tapi kenapa anda tidak mencoba, kenapa anda mengatakan itu buang-buang dana, pak, bu, pejabat, kapan sih anda tau identitas diri anda kalau anda hanya berkutat dibalik neraca dan timbangan?


Jumat, 09 November 2012

Disconnected

may i press that 'disconnected' button in our friendship?
i mean, i think it didnt work anyway, our friendship
i thought i finally found someone who know me inside out, but
am i begging you to much in this circle?
dear, my friend out there..
sorry to say..
i want to disconnect this sweet little thing you called with friendship
because i cant find what the best thing to express everything about us..
it isnt about now, but forever, you may see the difference the day after
thank you for being my last resort

Minggu, 04 November 2012

Rindu

Pernah gak sih kamu kangen sama orang yang mengasuh kamu sejak kecil? Bukan bapak atau ibu, tapi mbak yang mengasuh kamu dari kecil? Saya lagi mengalami fase itu, kangen sama si mbak.

Almarhumah nenek saya punya orang kepercayaan buat bantu-bantu bersihin rumah, dia udah mengabdi sama nenek saya lamaaaa banget. Orangnya jujur dan rajin. Lama-kelamaan hubungan nenek saya dan mbak itu udah mirip kayak saudara. Bahkan si mbak udah ada semenjak ibu saya hamil kakak saya. Pokoknya si mbak TOP lah menurut saya.

Saya bisa dibilang anak asuh favoritnya si mbak. Kok saya bisa tau? Karena si mbak pernah di tanya oleh kakak saya, 'Kok mbak sayang banget sih ke fathim? Dia kan cerewet??'. Kata si mbak. 'Iya, tapi gak tau, kalau ke fathim saya gak bisa nolak, saya sayang sih sama dia..'..heehe, saya juga gak tau ya, meski kesel kalau dimarahi dia atau kesel aja di mulai bawel kayak emak-emak, saya tetep sayang sama dia. Sampai segede ini, kalau dia tiba-tiba datang ke rumah mau jalan-jalan beli something apalah ke mall atau kemana kek gitu, saya pasti yang diajak..terus saya juga sering dibelikan ini-itu, dikasih ini-itu, beda banget kalau ke adik sama kakak saya. Nah ini yang mungkin bikin ikatan diantara kami berdua erat banget.

Saya masih ingat saya tuh sering rewel, sampai pernah, pas si mbak udah nggak kerja buat ibu saya, pas saya kelas 3 SD, ada mbak baru tuh dirumah, saya gak suka nasi yang udah kering atau kasar, saya suka nasi yang agak lembek, telor ceplok harus bener-bener mata sapi, dan cuma mbak saya yang lama yang bisa buat. Si mbak baru gak bisa. Saya sering marahin dia. Hehe, saya nyesel sih, si mbak pergi diam-diam dari rumah karena saya nakal. Huhu, ibu saya marahin saya yang manja. Akhirnya orang tua saya berusaha nyarikan mbak saya yang lama yang katanya di Jakarta. Taraaaa...mbak saya yang lama ada di rumah lagi. Saya seneng meski sering dimarahi karena bikin kotor rumah, gak tidur siang, makannya rewel. Saya masih inget gimana si mbak nyiapin air anget buat mandi pas jam setengah enam, gantiin baju dan harus rapi gak boleh ada yang keluar sedikitpun, kuncirin rambut, pakai.in kaos kaki dan sepatu, disuapin, huah, semua-muanya deh. Dimana ibu dan bapak banting tulang buat membiayai tiga anak pada waktu itu saat kami dilanda krisis pasca almarhuman nenek saya meninggal.

Si mbak juga yang ngajarin saya bahasa inggris, ngajarin sempoa, ngajarin pelajaran meski gak tau-tau banget dia selalu nemenin saya belajar, hebat kan? Saya inget banget si mbak suka banget sama westlife, the cranberries, Four None Blonde. Masih jelas banget diingatan saya si mbak dulu suka nyapu jam enam pagi sebelum saya berangkat sekolah sambil nyetel musik di tape tua saya muter lagu 'What's Going On'-nya Four None Blonde, ingeeet banget deh. 

Sekarang si mbak udah menikah. Si mbak udah gak kerja lagi. Padahal dulu saya mikir si mbak adalah tipe wanita mandiri yang akan terus kerja meski udah menikah. Saya gak datang ke pernikahan si mbak karena kuliah. Saya kangen si mbak. Mbak, bisa nggak kita ketemu lagi? Saya kangen sambelnya mbak nih.. :')

Sabtu, 03 November 2012

Standing In The Rain

Wow...hujan...pagi-pagi lagi...kayaknya nih hujan menjadi pengingat buat saya. Pengingat? Yep, pengingat..kapan lagi saya ingat pada hal yang membuat saya 'gak akan gak basah'. Maksudnya? 

Saya berani berdiri di dalam 'hujan', mau berlindung? Pasti tetap kehujanan. Hujan gak membiarkan saya untuk tetap kering. Jadi, wajarlah kalau kamu 'membasahi' dirimu di setiap tetesan hujan, entah kamu mau atau tidak. Kamu tidak bisa memilih untuk tidak basah. Yang kamu bisa adalah berdoa di setiap titik hujan yang jatuh dan menyadari apa yang telah kamu lakukan sejauh ini bukanlah sampah, bukanlah hal yang sia-sia.

Jumat, 02 November 2012

In The Midst of Papers, Mid Exams, Frenemies, and Human Thingy-Things

Image and video hosting by TinyPic

Clark Kent is My Superman

Boleh aja sih teman saya dan orang-orang lainnya bilang Batman keren, Andrew Garfield cool jadi Peter Parker, atau Robert Downey Jr yang stunning banget di Iron Man, atau mungkin para avangers di The Avangers, kalau saya sih dari dulu suka sama Superman. Siapa sih super hero paling asli? Ya Superman, dia itu gifted, ascribed, inherited buat jadi super hero. Biar kata orang Superman banci lah apalah, huu, dasar yang suka superhero baru-baru ini aja, kayak saya nih udah sampe koleksi banyak hal tentang Superman, i'm a true fan, aint a trend-lover who tends to be a follower. Hehe..

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Suka 'Jenar'-nya kan ya?

OMG!!! Jenar oh Jenar..siapa sih Jenar...kalau zaman SMA nih soal pernah masuk UAS semester 1 pertanyaan essay nomor 5..gini bunyinya:

5. Mengapa Syekh Siti Jenar tidak menjadi bagian dari wali songo?

Pas itu saya blank, saya tau kalau Pak Adi Prawito udah menjelaskan sejelas-jelasnya tentang si Jenar ini. Oke lah saya ngarang-sengarang-ngarangnya dan nulis kalau 'Dia tidak sepaham dengan para wali yang lain karena ajarannya yang berbeda dan dituduh sesat'. Gak tau nih jawaban salah atau bener. Jreenngg...akhirnya keluarlah hasil UAS semester satu yang bikin saya (kalau saat itu udah ada istilah koprol sambil bilang wow saya bakal bilang gitu deh) gak percaya dan berasa curiga sama Pak Adi Pra, 'Dikoreksi dengan bener gak sih???'...kenapa saya sampai merasa aneh tingkat tinggi?? Karena saya dapat 100, bulet 100..alias bener semua gak ada yang salah. Hebat kan? Biasa aja sih..ehm, harus cool dong :D

Jadi sebenarnya postingan ini bukan mau pamer kejeniusan saya zaman SMA atau apalah :p, tapi saya mau share tentang kehebohan para cewek yang kayak gak pernah liat cowok biasa didandanin pake efek make up dan jadi ganteng. Sebenarnya pertanyaan saya adalah, 'Yang ganteng tuh orangnya atau yang make up-in emang jago?' Saya lebih memilih opsi yang kedua yah, kecuali untuk beberapa orang kayak Jo, yang emang looked Gorgeous that night..wohoops, nyesel gak liat, tapi udah saliman sih ke orangnya jadi dimaafkan kan, Jo? 

Oke, singkat kata sih ini tentang teater ML, ehm jangan ngeres yah, teater ML tuh maksudnya teater Masa Lalu sebuah organisasi teater yang dibentuk oleh prodi Ilmu Sejarah UI yang baru setahun umurnya, eh setengah tahun tepatnya. Nah, teater ini nih tahun ini tepatnya 31Oktober lalu pentas perdana dengan membawa cerita 'Jenar'. Pemain untuk teater ini sih gak cuma anak sejarah aja, tapi lintas jurusan bahkan fakultas. Bahkan yang jadi Jenar pun--alias tokoh utama--dari Fakultas sebelah (baca:FISIP). Dan mungkin akhir oktober lalu menjadi Hall of Fame yah buat para pemeran 'Jenar' karena mereka mendadak jadi Seleb. Banyak yang minta foto-lah, direbutin lah, digebet, sampai ada yang saling nusuk antar teman karena rebutan cowok..hehe. Jadi lagi, saya mau bercerita tentang 'Jenar' a.k.a St (nama disingkat untuk privasi).

Kata teman saya yang udah pernah liat 'St' dalam kondisi 'St' alias nsebelum didandanin jadi Jenar, katanya sih biasaaaa aja, gak menarik nafsu untuk membicarakannya lebih lanjut. Eh paginya ciwi-ciwi pada lompat-lompat sambil mercing-mercing ngomongin salah satu nama yang bikin kuping dan mata saya panas karena seharian udah berlalu lalang dalam hidup saya, 'Jenar'. Katanya jenar ganteng lah, beda, gorgeous, apa lagi? Terus gueh harus bilang wow? Siapa sih Jenar? Saya aja gak nonton teaternya karena makalah siaul yang menanti dan UTS KI yang bikin saya bersyukur. Jadilah saya kambing congek, pongo, gak ngerti pada ngomongin apa, yang katanya ada script salah lah, musiknya gak lebih bagus dari pas PK (of course, saya gak main musiknya, biasa, gak ada saya jadi ...yah...hahaha bercanda), saya terdiam dan manggut-manggut mencoba membayangkan teman-teman saya yang 'biasa aja' mendadak karena efek make up (katanya) jadi ganteng.

Dari jutaan pemain dan jutaaan lighting kenapa jatuh ke satu cowok yang memerankan Jenar? Kenapa gak Adam Broody atau siapa-lah..hehe. Ya, jadi teman saya lagi pada suka sama Jenar nih..sebenarnya saya pingin tanya, suka Jenar-nya atau St-nya? Nah, saya curiga para ciwi suka sama 'Jenar' bukan sama 'St', karena dari sumber terpercaya saya tau St orangnya tuuuhh (katanya) biasa aja dan dari galaksi ke 9..ups. Hehe, jadilah para ciwi membayangkan punya cowok kayak 'Jenar' yang oke..hehe, terus ada juga sih satu cowok yang jadi the most laris di foto malam itu, nah dia peran jadi Sunan Kalijaga, inisialnya sih 'Mab'. Kata teman saya sih ketimbang Jenar--yang notabene pemeran utama--Kalijaga lebih banyak muncul, dia juga nembang Jawa sambil nari-nari (ngebayangin tarian Rusia yang muter muter) dan pas pementasan selesai ada sesi foto jadilah Jenar dan Kalijaga 'raja' sejagad semalam. Congrats ya bang... :D

Coba aja saya nonton teater malam itu, saya bakalan meleleh liat siapa yaah?? Haha, palingan liat si Homo deh saya bakal heboh, abisnya kalau diliat sepintas dikiiit nyerempet-nyerempet, dia mirip Ali Syakieb. Sayangnya sih dia kurang perawatan (maksudnya rambutnya tuh gak rapih, bajunya kaos seadanya..peace ya Homo..haha). Tau gak siapa Ali Syakieb? Pemain sinetron yang adiknya Nabila Syakieb itu loh..tau gak? Yang lagi main di sinetron Tukang Bubur Naik Haji...hehe. Gak penting juga sih, yang jelas saya harus buka Rumah Terapi Pasca Jenar, saya bakal bikin ciwi yang lonjak-lonjak girang back to normal. Sekian.